Minggu, 23 Agustus 2020

Menguak Hikmah Penciptaan Bintang-Bintang dalam Alquran | Pegawai Muslim


Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini diciptakan Allah SWT tentu memiliki hikmah yang sangat penting untuk dijadikan sebagai bahan perenungan. Rasa takjub kita atas segala penciptaan itu tentunya harus berimbas pada semakin kuatnya aqidah yang kita miliki.

Termasuk salah satunya adalah Allah SWT telah menciptkan bintang-bintang yang sangat indah, kita bisa melihatnya kala malam tiba. Tetapi, pernahkah kita memikirkan apa saja hikmah dari kenapa Allah SWT menciptakan bintang di langit? Berikut ulasan pegawai muslim dikutip dari berbagai sumber:

Berdasarkan Hadis Nabi SAW, ada tiga hikmah diciptakannya bintang.

خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا

Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara, Allah menjadikannya sebagai perhiasan untuk langit, untuk melempar para syaitan, dan untuk menjadi alamat (tanda-tanda) sebagai penunjuk arah.” (Shahih Al-Bukhari 4/107).

1. Sebagai Pelempar Setan

Hikmah diciptakannya bintang untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al Mulk:

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 5)

Setan mencuri berita langit dari para malaikat langit. Lalu ia akan meneruskannya pada tukang ramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut. Apalagi ketika diutus Nabi ﷺ, langit terus dilindungi dengan percikan api. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا, وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Dan sesungguhnya kami (para jin – pent) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami (para jin – pent) tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu), apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 9-10).

2. Sebagai Perhiasan Langit

Sebagaimana tersyirat dalam QS. Al-Mulk Ayat 5:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang" (QS. Al Mulk: 5)

3. Tanda untuk petunjuk

Sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَعَلاَمَاتٍ وَبِالـنَّـجْمِ هُمْ يَـهْتَدُونَ

Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl : 16)

 Dan firman Allah SWT dalam QS: Al-an’am ayat 97:

وهو الذي جعل لكم النجوم لتهتدوا بها في ظلمات البر والبحر

Dan Dialah (Allah SWT) yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kamu menjadikan petunjuk dalam kegelapan didarat dan dilaut” (QS : Al-An’am: 97)

Ayat ini dapat diartikan bahwa Allah SWT telah merekayasa bintang-bintang di langit membentuk sebuah komfigurasi khusus sebagai konstelasi atau rasi bintang, sehingga dapat menentukan arah. 

Allah SWT telah memberikan bintang sebagai petunjuk. Selama beberapa abad para pelaut dan penjelajah menggunakan bintang untuk menemukan jalan dan arah mata angin. Bintang adalah karunia yang besar bagi manusia dapat membantu manusia disaat tersesat.

Bintang dan Ilmu Pengetahuan

Jauh sebelum adanya ilmu falak atau ilmu astronomi, Alquran sudah terlebih dahulu menjelaskan hikmah diciptakannya bintang yakni sebagai pentujuk arah atau rasi bintang bagi manusia.

Perlu diketahu, ilmu astronomi adalah ilmu bintang yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.

Ilmu astronomi digunakan untuk mentukan arah kiblat, waktu solat, Awal bulan hijriyyah, Gerhana matahari dan bulan dan sebagai pentujuk arah mata angin.

Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh atau tidaknya mempelajari ilmu falak atau kedudukan bintang. Qotadah dan Sufyan bin ‘Uyainah melarang mempelajari posisi benda langit, alasannya saddu adz dzari’ah yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang. Dikhawatir jika kedudukan bintang dipelajari, akan diyakini bahwa posisi benda langit tersebut bisa berpengaruh pada takdir seseorang.

Kebanyakan ulama termasuk Imam Ahmad dan Ishaq bin Rohuyah membolehkan mempelajari ilmu falak atau astronomi. Disebabkan banyaknya manfaat yang diperoleh dari ilmu ini, d antaranya bisa dipakai untuk kepentingan agama seperti mengetahui arah kiblat dan waktu shalat. Atau untuk urusan dunia seperti mengetahui pergantian musim.

Sedangkan ilmu yang terlarang untuk dipelajari adalah ilmu astrologi. Dalam ilmu astrologi, ada keyakinan bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib seseorang. Padahal tidak ada kaitan ilmiah antara posisi benda langit dan nasib seseorang.

 

Wallahu A'lam Bishawab


Sumber:

Ahmad Baiquni, Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi

Muhammad Hasan, Benda Astronomi Dalam Al-Quran Dari Perspektif Sains

Caner Taslaman, Miracle of the Quran

Anas Abdul Hamid Alquz, Ibnu Qayyim Berbicara Tentang Manusia dan Semesta


https://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2020/02/02/17241/-p-menguak-hikmah-penciptaan-bintang-bintang-dalam-alquran-p-.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar